Walikota Mojokerto Dorong Lahirnya UMKM Desa Mandiri

REPUBLIKA.CO.ID,MOJOKERTO – Walikota Mojokerto, Jawa Timur Ika Puspitasari terus mendorong lahirnya UMKM secara mandiri melalui pemberdayaan masyarakat yang dikemas dalam berbagai pelatihan dan inkubasi kewirausahaan.

“Sebenarnya program pelatihan bagi pelaku usaha dan masyarakat sudah kami lakukan sejak 2019. Hanya saja, saat pandemi seperti ini melanda, kondisinya berubah,” ujarnya Selasa (6/4).

Ia menyatakan, pandemi COVID-19 telah melanda seluruh pelosok tanah air sejak setahun terakhir dan perekonomian mengalami keruntuhan. “Oleh karena itu, kami pemerintah daerah terus memperbanyak pelatihan pemberdayaan masyarakat. Dulu pelatihan hanya untuk pelaku usaha yang sudah punya usaha, sekarang sudah tidak seperti itu. Semua bisa ikut pelatihan meski tidak. punya bisnis, “katanya.

Untuk tahun ini, kata Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita ini, Pemerintah Kota Mojokerto menargetkan 350 jiwa serta Industri Kecil Menengah (IKM). Kemudian 6.000 peserta dalam 300 IKM mendapatkan pelatihan. Hal tersebut, kata dia, merupakan langkah strategis untuk menghidupkan kembali perekonomian di tengah pandemi COVID-19.

Utamanya dengan memberdayakan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal agar bisa naik kelas sehingga mampu bersaing dengan produk unggulan dari daerah lain. “Sejak tahun 2020 hingga 2021, pemerintah daerah telah melaksanakan program inkubasi wirausaha berupa pendampingan dan pemberian modal usaha melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2021 secara berkelanjutan. Bukti nyata dari hasil UMKM bantuan masuknya produk UMKM lokal. ” di pasar modern. Baik di bidang kuliner, kriya maupun oleh-oleh, ”kata walikota perempuan pertama di Mojokerto itu.

Adapun pemberdayaan melalui pelatihan dan inkubasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Mojokerto, seperti pelatihan peningkatan keterampilan IKM jajanan tradisional, pelatihan kerajinan kulit, pelatihan teknik cetak ECO, pelatihan kerajinan Shibori, peningkatan keterampilan menyulam, pelatihan menganyam bambu. , pelatihan pembuatan souvenir kuningan cor, pembuatan souvenir berbahan fiber, alas kaki IKM matching bisnis, pelatihan pendampingan inkubasi wirausaha.

Ke depan, kata dia, hasil pemberdayaan melalui pelatihan dan inkubasi bagi masyarakat tidak hanya mampu menembus pasar modern. Namun juga bisa melahirkan UMKM desa mandiri yang memiliki produk lokal khasnya sendiri sehingga bisa menarik wisatawan mancanegara.

Misalnya, lanjutnya, Desa UMKM Batik Majapahit, Desa UMKM Alas Sepatu, Desa UMKM Alas Sandal, Desa UMKM Onde-onde, Desa UMKM Hidroponik, UMKM Oleh-Oleh dari Serat, Desa Suvenir UMKM Dari Bahan Kuningan dan banyak lagi.

“Karena Kota Mojokerto sebentar lagi akan menjadi Kota Pariwisata, jadi kami ingin peran serta masyarakat ikut andil dalam pembangunan kota ini melalui produk UMKM lokal. Nah, melalui produk UMKM ini kami ingin mengkategorikan masing-masing. Jadi kalau ada ada pengunjung atau wisatawan yang singgah dan ingin melihat langsung proses pembuatan produk lokal bisa langsung kita arahkan ke desa UMKM yang dituju, ”ungkapnya.


Source