Wanita Muslim Tidak Membutuhkan Emansipasi? | Republika Online

Benarkah Islam tidak perlu dibebaskan

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Penulis dan Wisatawan.

Ada nama Rabi’ah Adawiyah (717-801 M), seorang wanita muslim berilmu yang menjadi guru bagi Malik bin Dinar, Raba al Rais, Syekh al Balkhi, dan masih banyak lagi.

Secara historis, guru Muslimah bukan hanya Rabi’ah Al Adawiyah. Ibn Hajar al-‘Asqalani, belajar dengan 53 guru Muslim. Imam as-Sakhawi memiliki 68 guru Muslim. Imam as-Suyuti belajar dengan 33 guru muslimah, yang berarti seperempat dari jumlah guru.

Muslimah dan pendidikan tidak bisa dipisahkan. Universitas tertua di dunia yang menawarkan gelar sarjana ini digagas oleh seorang wanita muslimah bernama Fatimah Al Fikri.

Putra seorang saudagar kaya yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk membiayai universitas yang masih kokoh berdiri di kota Fez, Maroko.

Di Andalusia, inilah nama Lubna dari Cordoba. Ia adalah seorang ulama yang ditugaskan oleh Khalifah untuk mengepalai perpustakaan Kordoba, yang saat itu hanya bisa dikalahkan oleh Bait Al Hikmah di Baghdad. Tak kurang dari 500 ribu buku ia kumpulkan mulai dari Baghdad, Mesir, Damaskus, hingga Timbuktu di Afrika

Kehebatan Muslimah juga ditelusuri di nusantara. Adalah Rahmah El Yunusiyah, pendiri Diniyah Putri Padang Panjang. Idenya yang luar biasa, mendirikan sekolah khusus perempuan, membuat Universitas Al Azhar Kairo mengadopsi idenya dan mendirikan Kulliyatul Lil Banat pada tahun 1962, kampus khusus untuk wanita.

Atas jasanya, pada 1957 ia diundang ke Mesir untuk menerima gelar kehormatan “Syehkhah”. Dia adalah wanita pertama yang menerima gelar tersebut.

Buya Hamka dalam bukunya Ayahku menggambarkan sosok Rahmah El Yunusiyah sebagai wanita muslim revolusioner yang pantang menyerah.

“Bisa dikatakan sebelumnya tidak ada perempuan yang mendalami agama, nahwu dan syaraf, fiqh, dan ushul. Sebelumnya perempuan hanya belajar mengaji secara umum, mendengar tabligh dari guru,” tulisnya.

Tak kalah hebatnya, dari Yogya ada Nyai Walidah Ahmad Dahlan. Muslimah cerdas yang menghapus perempuan dari kebodohan, melalui ribuan sekolah yang didirikan.

Dari satu sekolah, Taman Kanak-Kanak Froebel Aisyiyah yang berdiri pada tahun 1919 kini telah berkembang menjadi 5.865 TK Aisyiyah Bustanul Athfal, 280 rumah bersalin, Puskesmas dan posyandu, 459 rumah singgah, panti asuhan, 503 koperasi, Baitul Maal wa Tamwil, UMKM, dan masih banyak lagi. lagi.

Darimana wanita Muslim hebat ini mendapatkan inspirasi mereka? Tercatat bahwa Umahatul mu’minin telah dimulai. Begitu pula ibu Aisyah RA. Tidak hanya mengarang lebih dari 2.200 hadits, ia juga seorang guru dan tempat bagi teman-teman untuk bertanya.

Bagi Muslimah, ide emansipasi tidak diperlukan. Karena kedudukan mulia wanita dalam Islam, itu sudah pasti. Sejarah telah memberikan banyak bukti.

Jakarta, 21/4/2021




Source