Wisata Hiu Paus Labuhan Jambu, Destinasi Kekinian Pulau Sumbawa

Sumbawa Besar, Gaung NTB

Jika ingin bercengkrama dengan hiu paus di kawasan biosfer dunia Teluk Saleh desa Labuhan Jambu, kecamatan Tarano, kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, datanglah pada pukul 6 pagi. Anda dapat menyaksikan atraksi ikan raksasa ini secara langsung dari atas perahu atau bagang nelayan, berenang, dan menyelam. Musim kemarau adalah waktu terbaik, tetapi bisa juga dilakukan saat musim hujan karena hiu pausnya menetap di Teluk Saleh, kecuali pada hari-hari tertentu diantara bulan Desember sampai Februari. 

“Salah satu yang unik adalah cara memanggil hiu paus, dengan mengetuk perahu atau bagang nelayan. Ketika wisatawan melihat paus ini didepan mata, banyak wisatawan jatuh cinta pada pandangan pertama,” jelas Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Labuhan Jambu, Muhaidin Kasim.

     

Kemunculan whale shark, atau dalam bahasa latin Rhincondon Typus sedangkan oleh masyarakat Sumbawa disebut pakek torok, ke permukaan adalah  untuk mencari plankton yang tersebar di sekitar 100 bagang nelayan.

Jika wisatawan tidak berminat naik perahu, bisa juga berwisata keliling kampung pesisir dengan mempelajari keunikan budaya Bugis dan Samawa, atau berswafoto tugu hiu paus. Di kawasan Labuhan Jambu ini tersedia pula beragam kuliner dari olahan hasil laut, Anda bisa menikmatinya seraya menunggu matahari terbit.

Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat

Ekowisata hiu paus di desa Labuhan Jambu merupakan ekowisata pertama di Indonesia yang melibatkan masyarakat secara langsung. Desa wisata hiu paus Labuhan Jambu diluncurkan secara nasional saat Festival Sail Moyo Tambora 2018 lalu. Pengelolaan pariwisata hiu paus dipegang Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Labuhan Jambu sejak tahun 2017, didampingi oleh salah satu lembaga internasional yakni Conservasion Internasional (CI) Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 2019 pengelolaan wisata hiu paus ini diserahkan kepada BUMDes Labuhan Jambu. Ini disampaikan Kepala Desa Labuhan Jambu Musykil Harsah kepada Gaung NTB Senin (17/8).

BUMDes dan PKK Desa juga mendorong pelibatan perempuan dalam usaha wisata ini. Oleh-oleh khas Labuhan Jambu dihasilkan tangan dingin perempuan di desa pesisir ini, seperti abon ikan tenggiri, cumi kering, ikan teri kering, minyak gosok, kripik pisang, aneka kerajinan tangan, madu hutan, terasi dan souvenir khas hiu paus seperti gantungan kunci, boneka dan kaos.

Selain itu, pada bulan Agustus ini juga akan diluncurkan rest area lapak kuliner bantuan dari APBD kabupaten Sumbawa sebagai sarana pendukung dan tempat istirahat bagi penyintas dan wisatawan. Penyiapan sarana dan prasana lainnya terkait destinasi wisata hiu paus juga dianggarkan tiap tahunnya melalui dana desa, diharapkan kedepan sektor pariwisata sesuai targetnya dapat menambah pendapatan asli desa.

“Pengelolaan sektor wisata sejauh ini sudah mulai menggeliat. Kami selalu dukung BUMDes dalam pengembangan SDM dan kelembagaan, karena salah satu sumber tumpuan desa berada di Bumdes, sehingga kedepannya diharapkan Labuhan Jambu bisa menjadi desa mandiri,” harap Kades.

Sementara itu, Manager BUMDes Labuhan Jambu Sanawiyah kepada Gaung NTB mengatakan dimasa pandemi banyak tamu yang menghubungi dirinya untuk membooking paket wisata namun tidak diterima karena tutup selama pandemi Covid-19. 

Sanawiyah menyebutkan, harga paket Whale Shark Tourism ini cukup murah dan terjangkau. Penjualan paket wisata tersebut dibagi 3 yaitu, pendapatan untuk  BUMDes, kas desa, dan konservasi hiu paus ke nelayan pemilik bagang.

Terkait promosi wisata selama pandemi, BUMDes Labuhan Jambu tetap melakukan promosi dengan memanfaatkan teknologi digital melalui media sosial, web, pameran virtual, video virtual dengan mengikuti webinar nasional maupun internasional.

“Kami bagi masker gratis dari bulan April kepada nasabah. Kami juga sudah survey penyedia jasa wisata, antara lain rumah makan dan home stay, agar menyiapkan tempat cuci tangan, tisu basah, memakai masker dan tetap menjaga jarak fisik,” ujarnya.

Wisata Berkelanjutan di era Kenormalan Baru

Pengamatan CI Indonesia selama periode 2019 sampai 2020, hiu paus yang terdidentifikasi ada 94 ekor, terdiri dari 11 betina dan 83 jantan. Ini disampaikan Project Coordinator CI Maulita Sari Hani saat berbicara pada webinar “Hiu Paus Kaitannya dengan Kepariwisataan Pasca Pandemi” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makasar (20/6/20).

Doktor muda yang akrab disapa Lita Hutapea ini menambahkan,  konservasi hiu paus adalah membangun sistem keharmonisan manusia dan satwa liar dimana masyarakat memiliki peran penting didalamnya. Selama pandemi Covid-19, model wisata berbasis masyarakat sangat penting dalam melakukan adaptasi anggaran, khususnya untuk mengalokasikan dana dalam kegiatan promosi, baik terkait promosi protokol terhadap wisata normal baru dan promosi terhadap pembenahan target pasar serta pelayanan dan tata kelola wisata hiu paus yang lebih baik.

“Strategi promosi yang dapat kita lakukan dimasa pandemi dengan menawarkan wisata hiu paus virtual, mengikuti pameran virtual, berpartisipasi dalam acara internasional (sebagai narasumber, penanggap, pemerhati), mensinergikan kegiatan promosi dengan daerah atau pun nasional (video wisata dengan protokol kesehatan dengan Kemenparekraf/Dispopar ataupun wisata online melalui Kemdes PDT, serta digital travel platform), selain memaksimalkan website dan sosial media untuk membuat postingan kegiatan masyarakat,” tambahnya.

Pemerintah Sumbawa sendiri berharap sektor pariwisata kembali pulih, mengingat aktivitas wisata menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) kabupaten Sumbawa Rosmin Junaidi SPt MSi kepada Gaung NTB, Selasa (18/8).

Menurutnya, gaya berwisata setelah pandemi akan sedikit berubah dengan penerapan program Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) yang diluncurkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beberapa waktu lalu. Program BISA ini akan menjadi panduan bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Himpunan Pariwisata dan ekonomi kreatif, serta sentra kreatif dalam menjalankan usaha wisatanya selama pandemi Covid-19.

“Kami telah sosialisasikan programnya pada 42 Pokdarwis dan pengurus Himpunan Pariwisata. Diharapkan mereka bisa jadi penggerak, bahkan saat pandemi mereka tetap membantu promosi wisata dengan berbagai program, baik langsung maupun virtual dengan video maupun webinar,” ucapnya seraya berharap pandemi segera berlalu dan sektor wisata kembali bangkit.

Saat era kenormalan baru, paket wisata hiu paus diharapkan kembali melejit. Sebelum pandemi saja, wisata ini sudah menerapkan standar perlindungan konservasi biota laut dengan pembatasan waktu interaksi dilakukan hanya 3 jam, serta maksimal 6 wisawatan tiap perahu nelayan. Bahkan, BUMDes Labuhan Jambu bersama CI Indonesia sudah mempersiapkan protokol ketat agar wisatawan bisa kembali berjumpa dengan hiu paus.

Kedepan diharapkan paket wisata hiu paus di Desa Labuhan Jambu Pulau Sumbawa ini bisa diulas traveler dunia sehingga masuk dalam buku panduan wisata Lonely Planet ataupun National Geographic yang menjadi panduan wajib para wisatawan dunia. (Gks)

Tags: Hiu PausLabuhan Jambusumbawa